• PURWANDARI, S.PD., M.PD.
  • Pengawas Sekolah Cabang Dinas Pendidikan Wilayah IX Jawa Tengah

TRANSFORMASI PENGAWASAN SEKOLAH: MENERAPKAN PRINSIP COACHING UNTUK MEMBERDAYAKAN PENDIDIK

TRANSFORMASI PENGAWASAN SEKOLAH: MENERAPKAN PRINSIP COACHING UNTUK MEMBERDAYAKAN PENDIDIK

Selamat datang di ruang berbagi! Dalam perjalanan mendampingi 18 sekolah binaan kejuruan (SMK) pada semester genap ini, saya semakin menyadari bahwa paradigma pengawasan telah banyak berubah. Kita tidak lagi hadir sebagai "hakim" yang semata-mata mencari kesalahan atau mengevaluasi secara satu arah. Saat ini, pendekatan kita lebih berfokus pada pemberdayaan.

REGULASI TERKAIT PENDAMPINGAN PENGAWAS SEKOLAH

Transformasi paradigma pengawas sekolah saat ini sejalan dan didukung kuat oleh regulasi resmi:

  1. Peraturan Direktur Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan (Perdirjen GTK) Nomor 4831/B/HK.03.01/2023 menetapkan Peran Pengawas Sekolah dalam Implementasi Kebijakan Merdeka Belajar pada satuan pendidikan.
  2. Permenpanrb Nomor 7 Tahun 2026 tentang Jabatan Fungsional Pendidik dan Pengawasan Mutu Pendidikan, kompetensi melakukan coaching kini menjadi ruh utama dari tugas kepengawasan kita untuk mengakselerasi peningkatan kualitas pembelajaran.
  3. Melalui peraturan ini, pengawas sekolah diharapkan hadir sebagai pendamping satuan pendidikan yang mampu memberikan rasa nyaman serta mengawal sekolah tanpa bertindak seperti "jaksa".
  4. Pendampingan dilaksanakan dengan membangun kesetaraan dan relasi yang tidak hierarkis antara pengawas sekolah dan kepala sekolah.
  5. Tujuan utama dari siklus pendampingan ini adalah mendorong kesadaran refleksi dalam memecahkan persoalan guna meningkatkan kualitas pembelajaran.

Untuk itu, mari kita pahami dan terapkan prinsip-prinsip coaching dalam interaksi keseharian kita di sekolah.

TIGA PRINSIP UTAMA COACHING

Berdasarkan definisi dari ICF (International Coaching Federation), coaching merupakan hubungan kemitraan dengan klien dalam percakapan yang kreatif dan memicu pemikiran untuk memaksimalkan potensi pribadi dan profesional klien. Terdapat tiga kata kunci utama dari definisi ini, yaitu kemitraan, proses kreatif, dan memaksimalkan potensi. Dalam menjalankan tugas kepengawasan, peran kita bukan lagi sekadar evaluator, melainkan sebagai pendamping yang memberdayakan kepala sekolah dan guru. Dari tiga kata kunci utama tersebut, bisa kita kembangkan dalam mendampingi kepala sekolah maupun guru:

  1. Kemitraan
  • Dalam proses coaching, posisi pengawas dan kepala sekolah adalah mitra yang setara, di mana tidak ada pihak yang lebih tinggi maupun lebih rendah.
  • Coachee (kepala sekolah atau guru) merupakan sumber belajar bagi dirinya sendiri.
  • Pengawas memosisikan diri sebagai rekan berpikir dalam membantu coachee belajar dari pengalamannya.
  • Kita dapat berbagi pengalaman terkait topik pengembangan hanya jika diminta secara langsung oleh coachee.
  • Tujuan pengembangan selalu ditetapkan oleh rekan yang didampingi, bukan oleh kita, agar mereka lebih termotivasi dan berkomitmen.

 

  1. Proses Kreatif
  • Coaching memfasilitasi proses mengantarkan seseorang dari situasinya saat ini menuju situasi ideal di masa depan.
  • Proses ini dibangun melalui percakapan dua arah yang bertujuan memantik pemikiran baru pada benak coachee.
  • Sebagai coach, kita harus hadir secara utuh dan mendengarkan coachee secara aktif.
  • Kita perlu melontarkan pertanyaan untuk membantu coachee memetakan situasi dan menghasilkan langkah otonom menuju situasi ideal yang diinginkannya.

 

  1. Memaksimalkan Potensi
  • Untuk memaksimalkan potensi, percakapan coaching perlu diakhiri dengan rencana tindak lanjut yang diputuskan langsung oleh coachee.
  • Tindak lanjut yang dipilih haruslah langkah yang paling mungkin dilakukan serta memiliki peluang keberhasilan yang besar.
  • Sesi ini wajib ditutup dengan kesimpulan yang dinyatakan oleh coachee sendiri, bukan disimpulkan oleh pengawas.
  • Keputusan mandiri ini memastikan langkah tersebut adalah yang paling mungkin dilakukan dan memiliki peluang keberhasilan yang paling besar.

POLA PIKIR (MINDSET) PENDAMPING YANG MEMBERDAYAKAN

Untuk menerapkan prinsip di atas, seorang pengawas perlu membangun pola pikir berikut:

  1. Fokus pada Coachee: Perhatian harus dipusatkan secara utuh pada apa yang dirasakan, dipikirkan, dan diinginkan oleh individu yang kita dampingi, bukan semata-mata pada masalah atau situasi yang sedang dibicarakan.
  2. Bersikap Terbuka dan Ingin Tahu: Kita harus mampu menerima pemikiran orang lain secara netral tanpa menjadi emosional. Sangat penting untuk menghindari asumsi, pelabelan, atau penghakiman terhadap rekan yang sedang kita ajak bicara.
  3. Memiliki Kesadaran Diri yang Kuat: Pengawas harus peka dan mampu menangkap adanya emosi atau perubahan energi yang muncul selama proses percakapan berlangsung.
  4. Mampu Melihat Peluang Baru: Coaching selalu berorientasi pada solusi dan gambaran masa depan. Berfokus pada solusi akan membuat rekan sejawat menjadi jauh lebih bersemangat dibandingkan jika terus berkutat pada masalah yang lalu.

KOMPETENSI INTI DALAM COACHING

Dalam pendampingan, terdapat tiga kompetensi utama yang wajib kita latih terus-menerus:

  1. Kehadiran Penuh (Presence): Ini adalah kemampuan untuk hadir secara utuh bagi lawan bicara sehingga pikiran, hati, dan badan kita dapat selaras saat percakapan terjadi.
  2. Mendengarkan Aktif (Active Listening): Fokus mendengarkan untuk memahami makna, persepsi, dan cara berpikir yang tidak selalu terucapkan. Untuk melakukan ini, kita harus melepaskan tiga hambatan: berasumsi, memberikan penilaian/label, dan mengasosiasikan (mengaitkan cerita lawan bicara dengan pengalaman masa lalu kita sendiri).
  3. Mengajukan Pertanyaan Berbobot: Pertanyaan harus menstimulasi pemikiran baru dan bersifat eksploratif. Gunakan struktur kalimat terbuka, dan hindari kata "mengapa" karena hal tersebut berpotensi memicu rasa dihakimi. Praktikkan formula RASA (Receive, Appreciate, Summarize, Ask) agar pertanyaan berlandaskan dari apa yang benar-benar kita dengar.

 

KIAT-KIAT AGAR DAPAT MENGAJUKAN PERTANYAAN BERBOBOT

  1. Merangkum pernyataan-pernyataan coachee dari hasil mendengarkan aktif.
  2. Menggunakan kata: apa, bagaimana, seberapa, kapan dan dimana, dalam bentuk pertanyaan terbuka
  3. Menghindari penggunaan kata tanya “mengapa” - karena bisa terasa ada “judgement”.  Ganti kata “mengapa” dengan “apa sebabnya” atau “apa yang membuat”
  4. Mengajukan satu pertanyaan pada satu waktu, jangan memberondong
  5. Mengizinkan ada “jeda” atau “keheningan” setelah coachee selesai bicara, tidak buru-buru bertanya.  Juga izinkan ada keheningan saat coachee memproses pertanyaan
  6. Menggunakan nada suara yang positif dan memberdayakan

 

Berikut ini adalah salah satu referensi yang dapat kita gunakan untuk mengajukan pertanyaan berbobot hasil dari mendengarkan aktif yaitu RASA yang diperkenalkan oleh Julian Treasure.

 

Gambar 1. Receive, Appreciate, Summarize, dan Ask

RASA merupakan akronim dari ReceiveAppreciate, Summarize, dan Ask yang akan dijelaskan sebagai berikut:

  1. R (RECEIVE/TERIMA), yang berarti menerima/mendengarkan semua informasi yang disampaikan Perhatikan kata kunci yang diucapkan. 
  2. A (APPRECIATE/APRESIASI), yaitu memberikan apresiasi dengan merespon atau memberikan Bapak/Ibu bahwa coachmendengarkan coachee dengan cara mengangguk, kontak mata atau melontarkan “oh…” “ya…”. Coach juga sebaiknya memberikan perhatian dan hadir sepenuhnya untuk coachee dan tidak terganggu dengan situasi lain atau sibuk mencatat.
  3. S (SUMMARIZE/MERANGKUM), saat coachee selesai bercerita, coachmerangkum untuk memastikan pemahaman yang sama.  Perhatikan dan gunakan kata kunci yang diucapkan  Saat merangkum bisa gunakan potongan-potongan informasi yang telah didapatkan dari percakapan sebelumnya.  Minta coachee untuk konfirmasi apakah rangkuman sudah sesuai.
  4. A (ASK/TANYA).  Berikut ini adalah hal-hal yang perlu diperhatikan saat mengajukan pertanyaan: 
  • Ajukan pertanyaan berdasarkan apa yang didengar dan hasil merangkum (summarizing)
  • Ajukan pertanyaan yang membuat pemahaman coacheelebih dalam tentang situasinya
  • Pertanyaan harus merupakan hasil mendengarkan yang mengandung penggalian atas kata kunci atau emosi yang sudah dikonfirmasi
  • Dalam format pertanyaan terbuka: menggunakan apa, bagaimana, seberapa, kapan, siapa atau di mana
  • Hindari menggunakan pertanyaan tertutup: “mengapa” atau “apakah” atau “sudahkah” 

IMPLEMENTASI DI LAPANGAN

Sebagai contoh nyata, belum lama ini saya melakukan pendampingan ke salah satu sekolah binaan di mana Kepala Sekolah sedang merasa kesulitan meningkatkan motivasi tenaga pendidik, khususnya para guru produktif di Program Keahlian Kecantikan dan Spa, dalam menyelaraskan kurikulum dengan dunia industri.

Alih-alih langsung memberikan instruksi normatif atau menceramahi berdasarkan pengalaman saya sebelumnya saat mengajar di bidang kecantikan dan spa, saya memilih pendekatan coaching. Saya menahan diri untuk tidak memutus keluhannya dan mendengarkan secara utuh (active listening).

Kemudian, saya merangkum perasaannya dan mengajukan pertanyaan berbobot: "Saya melihat Ibu sangat peduli dengan kompetensi produktif murid. Jika diukur skala 1 hingga 10, sejauh mana Ibu melihat ruang dialog yang sudah terbuka antara pihak sekolah dengan para guru produktif tersebut saat ini? Lalu, apa satu langkah kecil yang menurut Ibu bisa mengubah angka tersebut menjadi lebih baik minggu ini?"

Pendekatan kemitraan dan proses kreatif ini membuat Kepala Sekolah tidak merasa dihakimi. Ia akhirnya secara mandiri menemukan solusi untuk merancang "sesi minum teh sore bersama guru kejuruan", yang terbukti sukses meruntuhkan sekat komunikasi, tanpa paksaan dari pengawas.

IMPLEMENTASI DI SMK

Saat melakukan kunjungan pendampingan, seorang kepala SMK menyampaikan kebingungannya terkait cara meningkatkan keterampilan praktik murid di kompetensi keahlian tertentu agar lebih relevan dengan standar industri.

 

Pengawas (Coach)

"Dari cerita Bapak/Ibu, ada tantangan dalam sinkronisasi keterampilan murid dengan kebutuhan industri. Idealnya, suasana pembelajaran seperti apa yang ingin Bapak/Ibu wujudkan?"

Kepala Sekolah (Coachee)

"Saya ingin murid bisa langsung terbiasa mempraktikkan keterampilan sesuai SOP salon profesional, khususnya pada program keahlian Kecantikan dan Spa, agar lulusan kita siap kerja."

Pengawas (Coach)

"Menarik sekali. Jika menggunakan skala 1 sampai 10, di mana angka 10 berarti pembelajaran kecantikan dan spa di sekolah sudah sepenuhnya menggunakan standar SOP salon profesional, saat ini sekolah Bapak/Ibu ada di angka berapa?"

Kepala Sekolah (Coachee)

"Sepertinya masih di angka 5. Guru-guru produktif kita memiliki keahlian yang bagus di perawatan kulit dan rambut, tetapi mereka jarang memperbarui standar pelayanannya dengan tren masa kini."

Pengawas (Coach)

"Baik. Untuk bisa meningkat dari angka 5 ke angka 7 atau 8, langkah inovatif apa yang menurut Bapak/Ibu paling efektif untuk didiskusikan dan diimplementasikan bersama para guru tersebut?"

Kepala Sekolah (Coachee)

dst

PERTANYAAN REFLEKTIF UNTUK KS DAN GURU

Bagi Bapak/Ibu Kepala Sekolah dan Guru hebat yang membaca tulisan ini, mari kita sejenak merefleksikan peran kepemimpinan kita sehari-hari:

  1. Saat Anda mendengarkan rekan kerja atau murid menyampaikan kendalanya, seberapa sering Anda secara refleks langsung memberikan "nasihat dan solusi" dibandingkan memancing mereka menemukan solusinya sendiri?
  2. Saat berada di sekolah binaan, seberapa sering kita benar-benar mendengarkan gagasan inovatif dari kepala sekolah, dibandingkan sekadar memberikan instruksi dan arahan satu arah?
  3. Apakah saat ini Anda sudah memposisikan rekan sejawat sebagai mitra yang setara tanpa adanya label asumsi (seperti merasa rekan A "pemalas" atau rekan B "sulit diajak maju") di dalam pikiran Anda?
  4. Apakah kita sudah mempraktikkan kehadiran utuh (presence) tanpa terdistraksi oleh urusan birokrasi lain saat sedang berdialog dengan warga sekolah?
  5. Langkah nyata dan sederhana apa yang akan Anda ubah besok pagi terkait cara Anda mendengarkan orang lain?
  6. Ketika seorang guru menghadapi tantangan yang sangat mirip dengan pengalaman kita mengajar di masa lalu, mampukah kita menahan diri untuk tidak langsung menyuapkan "resep lama" kita, dan membiarkan mereka meracik solusinya sendiri?

 

 

 

Komentari Tulisan Ini
Tulisan Lainnya
TRANSFORMASI PENDIDIKAN VOKASI 2026: SINERGI KARAKTER, INOVASI STEAM, DAN INKLUSIVITAS DI SMK BINAAN

TRANSFORMASI PENDIDIKAN VOKASI 2026: SINERGI KARAKTER, INOVASI STEAM, DAN INKLUSIVITAS DI SMK BINAAN Transformasi pendidikan menengah kejuruan pada tahun 2026 tidak hanya berfokus pa

30/08/2026 12:01 - Oleh Purwandari, S.Pd., M.Pd. - Dilihat 28 kali
TUPOKSI PENGAWAS

TUPOKSI PENGAWAS SESUAI DENGAN PERDIRJEN GTK NOMOR 4831/2023 Berperan sebagai Pendamping, dengan Fokus layanan pada Mendampingi kepala satuan pendidikan dalam menggerakkan warga seko

24/12/2025 14:50 - Oleh Purwandari, S.Pd., M.Pd. - Dilihat 59 kali